Terbaru

Mistik Kita hadir untuk Anda. Dengan harapan memberi keajaiban dan inspirasi dalam kehidupan Anda.

More

Sunday, March 10, 2013

Pengaruh Peradaban Dunia Terhadap Indonesia

    Bila Anda perhatikan, susunan materi dibawah ini kurang menarik. Jika Anda ingin memiliki versi yang rapih, silakan download di sini. Apabila Anda membutuhkan petunjuk cara mendownloadnya, silakan klik di sini.

A. PERADABAN AWAL MASYARAKAT DUNIA YANG BERPENGARUH DI INDONESIA.
Peradaban-peradaban di dunia lahir karena manusia-manusia melakukan hijrah. Jika di suatu tempat mengalami kesulitan hidup, maka untuk mencapai kehidupan yang lebih baik dilakukan perpindahan. Di dunia ini banyak sekali peradaban-peradaban yang mengalami perpindahan seperti peradaban Mesir, Mesopotamia, Cina dan lain-lain. Peradaban-peradaban yang masuk dalam suatu wilayah secara otomatis mempengaruhi wilayah yang didatangi. Termasuk Indonesia juga berpengaruh terhadap peradaban-peradaban yang ada di dunia.
1. Pengertian peradaban
Kata peradaban berasal dari bahasa Latin, yaitu 'civitas' yang artinya 'kota'. Dalam bahasa asing yang lain, peradaban sering diistilahkan dengan civilization (Inggris), beschaving (Belanda). Tingkatan kebudayaan yang telah mencapai nilai yang tinggi atau luhur disebut dengan peradaban. Dengan kata lain, peradaban adalah puncak dari hasil kebudayaan yang bernilai tinggi, maju, indah, sopan, mulia, halus, tertib, dan sebagainya. Jadi nilai-nilai peradaban mengandung nilai-nilai keluhuran budi dari segala hasil cipta, rasa, dan karsa suatu kelompok manusia untuk masyarakat.
2. Proses awal pembentukan peradaban
Dalam sejarah peradaban awal bangsa-bangsa di dunia, peradaban terbentuk umumnya karena dilatarbelakangi oleh faktor-faktor yang hampir sama. Faktor pertama adalah letak geografis yang berada pada posisi yang strategis serta dekat dengan sumber air, yakni sungai. Hampir semua awal peradaban dunia terletak di lembah-lembah sungai. Misalnya, peradaban Mesir Kuno terletak di lembah sungai Nil, peradaban Mesopotamia terletak di Sungai Eufrat dan Tigris, serta peradaban India Kuno yang terletak di lembah sungai Indus dan lembah sungai Gangga.
Lokasi yang dekat dengan air sangat penting bagi kelangsungan hidup suatu masyarakat di peradaban kuno. Sungai digunakan untuk kebutuhan pengairan bagi usaha pertanian serta peternakan. Sungai juga berfungsi sebagai alat transportasi yang dapat menghubungkan daerah-daerah lain sehingga terbentuklah jalur perdagangan suatu daerah.
Factor kedua adalah ketersediaan lahan tanah yang subur bagi pertanian. Dengan tanah yang subur itu, maka akan memberikan pasokan makanan yang cukup bagi seluruh penduduk. Terlebih lagi, pusat-pusat peradaban kuno umumnya merupakan Kota-kota besar yang memiliki jumlah penduduk yang banyak dan padat.
3. Ciri-ciri peradaban awal
Semua perdaban dimulai ketika orang-orang mulai hidup bersama dalam kelompok yang baesar. Setelah itu, mereka secara bertahap ataupun berangsur-angsur membentuk suatu komunitas baru yang lebih maju dan lebih besar jumlah anggotanya. Setrap peradaban memiliki karakter yang khas dan unik.
Adapun ciri-ciri yang umumnya terdapat di suatu peradaban dapat dilihat sebagai berikut.
a. Pembangunan kota-kota dengan tata ruang yang baik, indah, dan modern. Kota tersebut memiliki beragam fasilitas yang tidak ditemukan di tempat-tempat lain.
b. System pemerintahan yang tertib karena terdapat hukum dan aturan-aturan.
c. Masyarakatnya terbagi dalam jenis pekerjaan, keahlian, dan strata social yang jauh lebih kompleks.
d. Berkembangnya beragam ilmu pengetahuan dan teknologi baru yang lebih maju, seperti bidang astronomi, kesehatan, bentuk tulisan, arsitektur, kesenian, keagamaan, ilmu ukur, dan sebagainya.
4. Peradaban Awal Masyarakat di Dunia
Secara geografis, wilayah Indonesia berada pada posisi silang di antara dua benua (Asia dan Australia) dan diantara dua samudera (Hindia dan Pasifik). Posisi silang tersebut menjadikan Indonesia mudah mendapatkan pengaruh dari luar, terutama pengaruh terhadap peradaban dan budaya. Untuk dapat lebih memahami apa dan bagaimana pengaruh dari luar tersebut terhadap peradaban dan budaya Indonesia, perhatikan uraian materi di bawah ini dengan saksama!
a. Peradaban Lembah Sungai Mekong
1) Lokasi
Daerah pegunungan Kwen Lun di Asia Tengah merupakan asal Sungai Mekong atau
Kamboja, mengalir melalui daerah Cina Selatan, menjadi perbatasan Thailand dan
Indo Cina dan membangun Tanjung Kamboja. Sungai Mekong memberikan kesuburan tanah kepada daerah-daerah yang dilalui, seperti Laos, Vietnam, dan Kamboja.
2) Pendukung
Manusia-manusia kuno juga berasal dari Asia Tengah. Melalui sungai atau lembah mereka menyebar ke daerah pantai. Penyebaran mereka mungkin disebabkan karena adanya wabah penyakit atau bencana alam. Dad fosil yang ditemukan, dapat dinyatakan bahwa mereka terdiri atas beberapa jenis, seperti Papua Melanesoid, Mongoloid dan Austroloid. Percampuran mereka melahirkan bangsa Melayu yang berkulit sawo matang. Daerah Teluk Tonkin di Indo Cina merupakan tanah air mereka yang kedua. Dad Indo Cina mereka menyebar ke Kamboja, Muangthai yang kemudian menjadi bangsa Austro-Asia, dan sebagian besar ke kepulauan yang kemudian menjadi bangsa Austronesia.
3) Kebudayaan
Pada lembah sungai Mekong terdapat dua pusat peradaban, yaitu Bacson-Hoabinh dan Dongson. Bascon adalah daerah pegunungan dan Hoabinh adalah dataran. Keduanya terletak tidak jauh dari Teluk Tonkin. Peradaban daerah inipada mulanya adalah Mesolitikum. Hasil budayanya yang terkenal ialah kapak Sumatra dengan bangsa Papua Melanesoid sebagai pendukungnya. Kemudiandari Teluk Tonkin berkembang kebudayaan Neolitikum dengan alat-alatnya berupa kapak persegi dan kapak lonjong. Kapak persegi menyebar melalui Muangthai, Semenanjung Melayu ke Indonesia Barat dengan pendukungnya bangsa Melayu Austronesia. Sedangkan, kapak lonjong menyebar melalui Taiwan, Filipina ke Indonesia Timur dengan Papua Melanesoid sebagai pendukungnya. Penyebaran tersebut berlangsung sekitar 2000 SM.
Dongson merupakan asal kebudayaan perunggu di Asia Tenggara. Karena itu, kebudayaan perunggu di Asia Tenggara disebut juga Kebudayaan Dongson. Pendukung dan penyebar kebudayaan Dongson adalah bangsa Melayu Baru yang menyebar ke kepulauan Nusantara sekitar 500 SM. Beberapa jenis alat dari perunggu adalah kapak corong yang merupakan kapak logam bertangkai.
Selain kebudayaan yang sifatnya material tersebut, juga telah dikenal beberapa macam kebudayaan spiritual, antara lain
a) Kepandaian Membuat Perahu
Perahu ini dipergunakan untuk perpindahan dari daratan Asia ke daerah kepulauan (Austronesia). Salah satu ciri khas perahu buatan bangsa Melayu adalah dipergunakannya cadik. Cadik terbuat dari kayu atau bambu dan yang membuat perahu menjadi seimbang sehingga tidak mudah goyang.
b) Kepandaian Bercocok Tanam
Bercocok tanam meliputi berladang maupun bersawah. Hasilnya berupa padi yang merupakan bahan makanan pokok, di samping palawija yang merupakan tanaman selingan, seperti kacang, kedelai, dan jagung. Untuk mengerjakan sawah, mereka menggunakan bajak yang ditarik oleh kerbauatau sapi.
c) Pengetahuan Perbintangan atau Astronomi
Pengetahuan astronomi dipergunakan bangsa Melayu untuk pertanian dan pelayaran. Gugusan bintang Waluku yang bentuknya seperti bajak dipergunakan sebagai tanda untuk mengetahui datangnya musim bercocok tanam; sedangkan gugusan Bintang Salib Selatan dipergunakan untuk mengetahui arah dalam pelayaran.
d) Kepercayaan
Pemujaan roh nenek moyang (animisme) dan pemujaan terhadap benda-benda yang mempunyai kekuatan gaib (dinamisme) adalah kepercayaan yang mereka kenal. Dalam prakteknya kedua macam kepercayaan itu menimbulkan kebudayaan wayang, pemujaan makam dan sebagainya.
b. Peradaban Lembah Sungai Hoang Ho
Manusia purba yang ditemukan dalam gua-gua Choukoutien di Lembah Hoang-Ho adalah Sinantropus Pekinensis, artinya manusia Cina dari Peking. Jenis manusia ini setingkat dengan Pithecanthropus Erectus yang ditemukan di Indonesia yang mendukung kebudayaan Palaeolitikum. Kebudayaan Lembah Sungai Hoang-Ho ditemukan sekitar 3000 SM. Orang Cina menyebut negerinya sebagai Chung Kuo, artinya negeri tengah karena terletak di tengah-tengah dunia. Rakyatnya disebut Hoang-Chung Hua atau Cina, yang umumnya berada di Lembah Sungai Hoang-Ho dan Sungai Yang Tse Kiang. Di sinilah pusat peradaban Cina banyak ditemukan.
1) Aksara dan Astronomi
Masyarakat Cina sudah mengenal tulisan gambar dan mempunyai bahasa persatuan, yaitu bahasa Kuo-Yu. Selain itu, sudah mengenal astronomi (ilmu perbintangan) yaitu sistem penanggalan yang penting untuk kegiatan pertaniandan pelayaran.
2) Pertanian, Perdagangan, dan Teknologi
Kedua sungai besar, yakni Sungai Hoang-Ho dan Sungai Yang Tse Kiangmerupakan daerah yang subur sehingga menjadi urat nadi kehidupan bangsaCina. Mereka hidup dari bercocok tanam dengan hasil gandum, padi, jagung,kedelai, dan murbai. Selain
itu, mampu menghasilkan barang-barang keramik dan sutera yang diperdagangkan
sampai ke luar wilayah Cina.
3) Kepercayaan
Kepercayaan bangsa Cina adalah polytheisme atau menyembah banyak dewa sebagai kekuatan alam, seperti Dewa Feng-Pa sebagai dewa angin dan Lei-Shik sebagai dewa taufan. Masyarakat Cina kuno jugs mengenal upacara korban manusia (gadis cantik) untuk persembahan dewa tertinggi Ho-Po yang bertahta di Hwang-Ho. Contoh bahasa sejarah masa Cina.
4) Filsafat
Filsafat kehidupan Cina berkembang pada zaman Dinasti Chou (1100-156 SM) sehingga Dinasti Chou berhasil meletakkan dasar-dasar kehidupan dan berpengaruh sepanjang sejarah Cina. Filsuf Cina antara lain:
a) Lao Tse, ajarannya disebut Taoisme, tertulis dalam buku Tao Te-ching, yang intinya.
(1) Adanya semangat keadilan dan kesejahteraanbernama Tao
(2) Orang tidak boleh mengekang jalannya alam
(3) Orang supaya mau menerima nasib; seperti suka,duka, bahagia, sengsara dan sebagainya.
b) Mo Ti
Ajarannya mendasarkan pada Chien Ai yakni cinta universal. Maksudnya, cinta yang tanpa pandang bulu, yakni mencintai sesama seperti mencintai dirinya sendiri. Jika setiap orang bertindak demikian, maka dunia akan damai.
c) Kung Fu Tse (Konfusianisme)
Kung Fu Tse dalam bahasa Tionghoa, sedangkan orang-orang Barat menyebutnya Confusius. Ajarannya biasa disebut Ju Chia (Kung Chia), orang banyak menyebutnya Confusianisme. Pokok-pokok ajarannya terletak pada Li, Ren dan I. Jika manusia atau masyarakat telah memegang teguh Li, Ren dan I, maka dunia akan damai.
Apa itu Li, Ren dan I? Li, adalah adat istiadat. Sesuai dengan ajaran Li, maka orang itu harus mengetahui dirinya dan menempatkan did pada tempatnya.
Ada 5 (lima) hubungan yang dapat dipertimbangkan paling utama, yakni:
(a) Bagaimana hubungan antara penguasa dengan yang dikuasai?
(b) Bagaimana huburigan antara orang tua dengan anak?
(c) Bagaimana hubungan antara suami dengan istri?
(d) Bagaimana hubungan antara saudara tua dengan saudara muda?
(e) Bagaimana hubungan antara teman dengan teman?
Sebagai contoh orang tua harus memberi teladan tindakan yang balk bagi anak-anaknya dan bertindak bijaksana; sebaliknya, anak-anak harus patuh dan meluhurkan orang tuanya. Ren, yakni peri kemanusiaan; dan I adalah peri keadilan. Menurut Kung Fu Tse, kalau masyarakat memegang teguh Li, Ren dan I, maka masyarakatakan hidup tenteram dan sejahtera. Ini semua merupakan usaha Kung FuTse untuk menciptakan kedamaian dan kesejahteraan masyarakat. Bapak menjadi semua pusat anggota keluarga sehingga bapak harus menjadi panutan, sedang anak harus tunduk kepadanya. Negara adalah keluarga dalam bentuk besar dan raja atau kaisar adalah sebagai bapak yang harus adil dan bijaksana, sedang rakyat harus tunduk kepada raja. Ajaran Kung Fu Tse sampai sekarang tetap menjadi pegangan hidup rakyat Cina.
5) Sistem Pemerintahan
Kerajaan (kekaisaran di Cina merupakan kerajaan agraris yang menimbulkan susunan. masyarakat dan negara feodal). Bila pusat pemerintahannya ada ditangan raja atau kaisar yang kuat, negara-negara kecil yang merupakan bagian dari negara induk akan tunduk. Sebaliknya, bila pusat pemerintahannya lemah, maka raja-raja kecil akan memperkuat dirinya dan melawan pusat. Sejarah pemerintahan ni eri Cina ditandai dengan pemerintahan dinasti yang bergantian dan masing-masing dinasti memiliki ciri tersendiri.
a) Dinasti Hsia (2000 - 1500 SM)
Dinasti Hsia merupakan dinasti tertua di Cina. Termasuk zaman Proto sejarah Cina karena tidak meninggalkan prasasti.
b) Dinasti Shang (1500 - 1100 SM)
Pada masa ini Cina memasuki zaman sejarah dengan tulisan pictograf .Mata pencaharian masyarakat bercocok tanam, beternak, berdagang, keramik dan sutera. Selain itu, masyarakatnya juga sudah mengenal astronomi. idang kepercayaan masyarakat Cina menyembah dewa Shang Ti.
c) Dinasti Chuo (1222 - 221 SM)
Dinasti Chou didirikan oleh Wu Wang dengan ibukotanya Chang -an.Pada masa ini, berlaku sistem pemerintahan feodalisme dan muncul tokoh-tokoh filsafat yaitu Lao Tse, Mo Ti dan Kung Fu Tse.
d) Dinasti Chin (221-207 SM)
Dinasti ini didirikan oleh Shih Huang Ti, dengan pusat pemerintahannya di Han Tan. Dinasti Chin menghapuskan sistem pemerintahan feudal dan diganti sistem pemerintahan unitarisme (kekuasaan terpusat). Oleh karena itu, Shih Huang Ti memerintahkan membuat jalan-jalan besar yang menghubungkan daerah dengan pusat. Jalan ini dikenal dengan nama Jalan Kerajaan. Tindakan-tindakan Shih Huang Ti lain yang penting, di antaranya adalah:
(1) Membangun The Great Wall atau Tembok Raksasa dengan panjang 6.000 km, dengan tinggi 16 meter yang berguna untuk menahan serangan bangsa Bar-bar (bangsa Hsiung Nu). Sampai sekarang tembok ini masih berdiri megah & merupakan salah satu keajaiaiban dunia.
(2) Untuk mengamankan kekuasaannya dari rongrongan yang kurang menyetujui pemerintahannya, Kaisar Shih Huang Ti tahannya, Kaisar Shih Huang mengeluarkan dekrit untuk membakar dan memusnahkan buku-buku ajaran.guru besar Kung Fu Tse, kecuali buku pertanian, pengobatan dan ramalan.
(3) Mengadakan penyeragaman tulisan-tulisan di seluruh Cina.
(4) Mengadakan penyeragaman ukuran-ukuran, timbangan-timbangan, perkakas pertanian dan sebagainya.
e) Dinasti Han (206 SM - 220 M)
Dinasti Han didirikan oleh Liu Pang, setelah naik tahta bergelar Han Kao Tsu. Pusat Pemerintahan Han adalah Chang-an.
(1) Kaisar yang terkenal Han. Wu Ti (140-87• SM). la berusaha menghidupkan kembali sistem feodalisme dan ajaran Kung Fu Tse.
(2) Segala aktivitas kehidupan berdasarkan ajaran Konfusianisme (KungFu Tse).
(3) Berhasil dibangunnya jalan suteramelalui Asia Tengah. Dikenal dengan "jalan sutera", karena di antara barang dagangan yang di bawa lewat jalan tersebut yang terbanyak adalah sutera.
(4) Pada masa Dinasti Han inilah agama Buddha masuk ke Cina, yakni masa pemerintahan Kaisar Ming-Ti (58 -75 M)
f) Dinasti Sui (589-618 M)
Dinasti Sui dengan ibukotanya di Chang-an. Kaisar terbesar dari DinastiSui adalah Sui Yang Ti (605-618). Kaisar ini terkenal karena membangun istana yang mewah dan membuat Saluran Kaisar dengan panjang 1.800 km guna memperlancar perdagangan.
g) Dinasti Tang (618 - 906 M)
Dinasti Tang didirikan oleh Li Yuan, setelah naik tahta bergelar Tang Kao Tsu (618 627). Kaisar terbesar dari Dinasti Tang adalah Tang Tai Tsung (627-649). Masa ini Cina mengalami zaman keemasan karena dapat mempersatukan seluruh Cina bahkan sampai Kamboja, Persia dan Laut Kaspia.
h) Dinasti Sung (906 - 1279 M)
Masa Sung Utara (960-1227) pusat pemerintahannya berada di Chang-an, tetapi masa Sung Selatan (1227-1279) pusat pemerintahannya beradadi Nanking. Kaisar terbesar adalah Sung Jen Tsung (1023-1063). Dinasti Sung mengadakan perdamaian dengan bangsa K'itan dan bangsa Tangut. Untuk menjaga perdamaian, maka kaisar Sung harus membayar upeti kepada bangsa-bangsa tersebut, agar tidak mengadakan serangan.
i) Dinasti Mongol atau Yuan (1260 - 1368 M)
Pembentuk imperium Mongol adalah Jengis Khan, kemudian diteruskan oleh Kublai Khan. Dinasti Yuan didirika.n oleh Kublai Khan, yang berasal dari Mongolia. Oleh karena itu, dinasti ini dianggap sebagai pemerintahan asing (dinasti asing). Kaisar yang terkenal ialah Kublai Khan (1260-1294).Ibukota pemerintahannya berada di Peking. Kublai Khan pernah mengadakan serangan ke Pulau Jawa khususnya ke Kerajaan Singasari di masa pemerintahan Kertanegara. la mengadakan Pax Mongolia sebagai
gabungan pemerintahan raja-raja Mongol di Asia. Di masa pemerintahannya, seorang musafir Barat kenamaan, yakni MarcoPolo datang ke negeri Cina. Pada masa Dinasti Mongol ini pula agama Kristen mulai masuk ke Cina.
j) Dinasti Ming (1368 - 1644 M)
Masa ini Cina diperintah bangsa sendiri dengan ibukota di Nanking. Dinasti Ming merupakan pemerintahan nasional yang timbul sebagai reaksi atas pemerintahan asing Mongol. Dinasti Ming didirikan oleh Chu Yuan Chang dengan gelar Ming Tai Tsu (lebih dikenal dengan Hung Wu), yang berkuasa memulihkan kehidupan Cina, memperluas ajaran Kung Fu Tse dan mempersatukan Cina. Kaisar terkenal dari Dinasti Ming adalah Ming Ch'eng Tsu, yang lebih dikenal dengan nama Yung Lo (1403-1424). Pada masa pemerintahannya, ibukota kerajaan di pindahkan dari Nanking ke Peking. Di masa pemerintahannya dikirimlah ekpedisi-ekspedisi ke seberang lautan dibawah pimpinan Laksamana Cheng Ho. Pada masa kaisar Yung Loird, Cheng Ho pernah mengadakan pelayaran ekspedisi diplomatik sebanyak enam kali.
k) Dinasti Manchu (1644 - 1912 M)
(1) Bangsa Manchu berhasil meruntuhkan Dinasti Ming.
(2) Dinasti Manchu merupakan dinasti terakhir di Cina, dan merupakan dinasti asing karena berasal dari Manchuria. Pusat pemerintahannya ada di Peking.
(3) Dinasti Manchu mencapai masa kejayaaan pada masa pemerintahan Kaisar K'ang Hsi (1662-1722) dan Kaisar Ch'ien Lung (1736-1795). Kebesaran kedua kaisar tersebut, meliputi bidang politik, ekonomi dan budaya khususnya sastra.
(4) Pada masa ini ajaran Kristen berkembang di Cina.
(5) Golongan nasionalisme Cina bangkit untuk .melepaskan diri dari pengaruh pemerintahan asing (Manchu).
(6) Pada tahun 1911 terjadi Revolusi Cina di bawah pimpinan Sun Yat Sen, dan berhasil menggulingkan kekuasaan Manchu kemudian berdiri Republik Cina dengan Sun Yat Sen sebagai presidennya.
c. Peradaban Lembah Sungai Indus
1) Lokasi
Sungai Indus atau Sindhu terletak di wilayah Pakistan. Sungai Indus memilki banyak anak sungai yang berasal dari wilayah Punjab di Pakistan Utara. Punjab artinya daearah aliran lima sungai. Sungai Indus mengalir melalui Pakistan dan menyebabkan tanah di negeri itu menjadi subur. Sungai tersebut bermuara di Laut Arab.
2) Pendukung
Berdasarkan peninggalan yang ada, dapat dinyatakan bahwa pendukung peradaban Sungai Indus adalah bangsa Dravida. Bangsa Dravida merupakan penduduk asli India dengan bercirikan hitam dan berambut keriting serta berhidung pesek. Sisa-sisa bangsa ini masih dapat ditemukan di Dataran Tinggi Dekan di India Selatan. Mereka Meninggalkan daerah yang subur karena didesak bangsa Aria yang masuk ke India pada' tahun 1500 SM.
3) Kebudayaan
Peradaban Lembah Sungai Indus ditemukan di dua tempat, yakni Harrapa (daerah hulu Punjab) dan Mahenjo Daro di daerah hilir sungai Indus. Dari penemuan-penemuan yang diperoleh dapatlah diketahui bahwa peradaban Lembah Sungai Indus telah tinggi.
Beberapa penemuan hasil peradaban daerah tersebut adalah:
a) Kota Harappa dan Mahenjo Daro
Kota Harappa dan Mahenjo Daro merupakan kota kuno daerah Pakistan yang dibangun berdasarkan tats kota yang baik. Jalan-jalan di kedua kota tersebut 'dibuat lurus. Pembangunan kota -juga memperhatikan arch angin muson (Barat Daya Timur Laut), sehingga arus angin dalam kota lancer. Di kanan kiri jalan dibangun saluran air dalam tanah untuk menampung air dari rumah-rumah.
b) Bangunan Umum
Bangunan umum dalam kota di antaranya pasar yang menunjukkan bahwa perdagangan. di kedua kota tersebut telah lancar, tempat pemujaan dewa atau kuil, dan bangunan lainnya diperkirakan berupa sebuah istana. Bangunan-bangunan tersebut terbuat dari batu bata. Rumah penduduk berhadapan di kanan kiri jalan.
c) Benda-Benda Purba
Benda-benda purba yang merupakan lempeng-lempeng tanah (terra cotta) berbentuk segi empat dan bergambarkan binatang seperti gajah, harimau, sapi, badak atau pohon-pohonan seperti beringin. Di bawahnya terdapat tulisan yang belum terbaca betul maksudnya, tetapi diperkirakan bahwa antara tulisan dan gambar ada hubungannya. Huruf-huruf itu disebut pietograph yang berarti tulisan gambar. Lernpeng-lempeng tanah tersebut menunjukkan adanya kepercayaan menyembah binatang atau pohon-pohondan benda-benda yang merupakan jimat. Peninggalan lain yang ditemukan berupa tembikar yang berbentuk periuk belanga, semacam piling dan cangkir dalam berbagai macam bentuk dan ukuran. Alat-
alat pertanian yang ditemukan berupa cangkul dan kapak.Sedangkan, alat-alat perhiasan berupa kalung, gelang, ikat pinggang yangdibuat dari tembaga atau emas. Dari temuan yang ada dapat diketahuibahwa penduduk telah mengenal kebudayaan batu dan logam.
d) Akhir Peradaban
Pada tahun 1500 SM peradaban Lembah Sungai Indus mengalami keruntuhan. Hal ini disebabkan adanya bahaya banjir Sungai Indus dan adanya serangan bangsa Aria yang berasal dari Asia Tengah. Bangsa Dravida sebagai pendukung peradaban Lembah Sungai Indus terdesak kedaerah Dataran Tinggi Dekan yang kurang subur, sedangkan bangsa Aria menjadi penghuni baru Lembah Sungai Indus.
d. Peradaban Lembah Sungai Gangga
1) Lokasi
Lembah Sungai Gangga dengan anak sungainya Yamuna terletak antara Pegunungan Himalaya dan Pegunu-ngan Vindhya. Kedua sungai tersebut bermata air di Pegunungan Himalaya dan mengalir melalui kota-kota besar seperti Delhi, Agra, dan bermuara di wilayah Bangladesh ke Teluk Benggala. Sungai Gangga bertemu dengan Sungai Brahmaputra yang bermata air di Pe Gangga merupakan daerah yang subur.gunungan Kwen Lun. Lembah Sungai
2) Pendukung
Pendukung peradaban Lembah Sungai Gangga adalah bangsa Aria yangtermasuk bangsa Ind° Jerman. Bangsa Aria memasuki wilayah India kurang lebih tahun 1500 SM melalui Pas Kaiber di Pegunungan Hindu Kush. Mereka berkulit putih, berbadan tinggi, dan berhidung mancung. Pencahariannya semula beternak, tetapi setelah berhasil mengalahkan bangsa Dravida di Lembah Sungai Indus yang subur dan menguasai daerah tersebut, mereka kemudian bercocok tanam dan menetap.
3) Masyarakat
Bangsa Aria berusaha untuk tidak campur dengan bangsa Dravida yang merupakan penduduk asli India. Mereka menyebut bangsa Dravida anasah, artinya tidak berhidung atau berhidung pesek dan dasa yang berarti raksasa. Untuk memelihara kemurnian keturunannya, diadakan sistem pelapisan (kasta) yang dikatakannya bersumber pada ajaran agama.
Bangsa Aria berhasil mengambil alih kekuasaan politik, sosial dan ekonomi. Akan tetapi, dalam kebudayaan terjadi percampuran (asimilasi ) antara Aria dan Dravida. Percampuran budaya itu melahirkan kebudayaan Weda. Kebudayaan inilah yang melahirkan agama dan kebudayaan Hindu atau Hinduisme. Daerah perkembangan pertamanya di lembah Sungai Gangga yang kemudian disebut Aryawarta (negeri orang Aria) atau Hindustan (tanah milik orang Hindu).
Untuk mempertahankan kekuasaannya di tengah kehidupan masyarakat, bangsa Arya berusaha menjaga kemurnian ras. Artinya, mereka melarang perkawinan campur dengan bangsa Dravida. Untuk itulah, bangsa Arya menciptakan system kasta dalam kemasyarakatan. Sistem kasta didasarkan pada kedudukan, hak dankewajiban seseorang dalam masyarakat.
Pembagian golongan atau tingkatan dalam masyarakat Hindu terdiri dari empat kasta atau catur warna, yakni : Brahmana (pendeta), bertugas dalam kehidupan keagamaan; Ksatria (raja, bangsawani dan prajurit), berkewajiban menjalankan pemerintahan termasuk mempertahankan negara, Waisya (pedagang, petani, dan peternak), dan Sudra (pekerja-pekerja kasar dan budak).
Kasta Brahmana, Kastria, Waisya terdiri dari orang-orang Aria. Kasta Sudra terdiri dari orang-orang Dravida. Selain keempat kasta di atas, ada lagi kasta Paria/Candala atau Panchama. Panchama yang berarti "kaum terbuang". Kasta ini dipandang hina, karena melakukan pekerjaan kotor, orang jahat dan tidak boleh disentuh, lebih-lebih bagi kaum Brahmana.
4) Agama Hindu
Agama dan kebudayaan Hindu lahir pertama kali di India sekitar tahun1500 SM. Agama dan kebudayaan Hindu ini mengalami pertumbuhan pada zaman Weda. Kebudayaan Hindu merupakan perpaduan antara kebudayaan bangsa Aria dari Asia Tengah yang telah memasuki India dengan kebudayaan bangsa asli India (Dravida). Hasil percampuran itulah yang disebut agama Hindu atau Hinduisme. Daerah perkembangan pertamanya di lembah Sungai Gangga yang disebut Aryawarta (negeri orang Aria) dan Hindustan (tanah milik orang Hindu). Sejak berkembangnya kebudayaan Hindu di India maka lahir agama Hindu. Dan India, agama Hindu menyebar ke seluruh dunia dan banyak memengaruhi kebudayaan-kebudayaan di dunia, termasuk Indonesia.
Menurut pendapat para ahli sejarah, berdasarkan temuan berbagai peninggalan sejarah, diyakini bahwa bekas Kota Mahenjo-Daro (Larkana) dan Harappa (Punjab) di lembah Sungai Indus merupakan tempat timbul dan berkembangnya agama Hindu.
Agama Hindu tumbuh bersamaan dengan kedatangan bangsa Arya (Indo-Jerman) ke India kira-kira tahun 1500 SM. Mereka datang melewati celah Kaiber. Celah tersebut terletak di pegunungan Hindu Kush, sebelah barat laut India. Itulah sebabnya celah Kaiber terkenal dengan sebutan "Pintu Gerbang India". Kemudian bangsa Arya mendesak bangsa Dravida dan Munda yang telah mendiami daerah tersebut.
Akhirnya bangsa Arya berhasil menempati daerah celah Kaiber yang sangat subur. Bangsa Dravida mendiami Dataran Tinggi Dekan (India Selatan). Bangsa Munda mendiami daerah-daerah pegunungan.
Pemeluk agama Hindu mengenal tiga dewa tertinggi yang disebut Trimurti, yakni Brahma (dewa pencipta), Wisnu (dewa pelindung), dan Syiwa (dewa perusak). Dewa-dewi lainnya antara lain : Agni (dewaapi), Bayu (dewa angin), Surya (dewa matahari), Candra (dewa bulan), Indra (dewa perang), Saraswati (dewi pengetahuan danseni), Lakshmi (dewi keberuntungan), dan Ganesha (dewa pengetahuan dan penolong).
Sumber ajaran Hindu adalah kitab Weda, yang bermakna pengetahuanHindu. Kitab-kitab penganut Hindu:
a. Kitab Weda
Terdiri dari 4 Samhita atau himpunan, yaitu:
(1) Reg Weda (merupakan kitab yang tertua), berisi puji-pujian kepadadewa
(2) Sama Weda, berisi nyanyian-nyanyian suci yang merupakan pujianpada waktu melaksanakan upacara
(3) Yajur Weda, berisi doa-doa yang diucapkan pada waktu upacara sesaji.
(4) Atharwa Weda, berisikan doa-doa bagi penyembuhan penyakit dannyanyian sakti kaum brahmana.
b. Kitab Brahmana
Berisi penjelasan kitab Weda, yang disusun oleh para pendeta.
c. Kitab Upanishad
Berisi petunjuk-petunjuk, agar orang dapat melepaskan diri darisamsara, dan dapat mencapai moksa (kebahagiaan abadi).
d. Kitab yang berisikan cerita kepahlawanan:
(1) Mahabharata karya Wiyasa berisikan cerita peperangan antara Pandawa melawan Kurawa. Keduanya masih keluarga seketurunan, yang memperebutkan tahta kerajaan Astina. Perebutan akhirnya dimenangkan oleh Pandawa.
(2) Ramayana , karya Walmiki menceritakan peperangan antara Rama dengan Rahwana. Peperangan ini akhirnya dimenangkan oleh Rama. Cerita Ramayana melambangkan kejujuran (dilambangkan Rama) melawan keangkaramurkaan(dilambangkan Rahwana).
Inti ajaran agama Hindu didasarkan pada karma, reinkarnasi dan moksa. Karma adalah perbutan baik buruk dari manusia ketika di dunia yang menen-tukan kehidupan berikutnya. Reinkarnasi ialah penjilmaan kembali kehidupan manusia sesuai dengan karmanya. Bila seseorang berbuat baik akan lahir kembali ke tingkat yang lebih tinggi; sebaliknya jika berbuat burUk mengakibatkan reinkarnasi ke tingkat yang lebih rendah, misalnya lahir sebagai hewan. Keadaan hidup-mati kembali merupakan persitiwa hidup yang menderita (samsara). Moksa ialah tingkat hidup tertinggi yang terlepas dari ikatan keduniawian atau terbebas dari reinkarnasi.
Agama Hindu mengenal pembagian masyarakat atas kasta-kasta, yaitu Brahmana, terdiri dari golongan pendeta, bertugas mengurus soal kehidupan keagamaan; Ksatria, terdiri dari golongan bangsawan dan prajurit, berkewajiban menjalankan pemerintahan termasuk mempertahankan negara; Waisya, bertugas untuk berdagang, bertani, dan beternak; Sudra, bertugas untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan kasar, seperti budak dan pelayan.
Adanya sistem kasta (catur warna) tersebut pada dasarnya merupakanpembagian tugas dan kelas dalam masyarakat Hindu yang didasarkan atas keturunan. Perkawinan antar kasta dilarang, terhadap yang melanggar dikeluarkan dari kasta (out cast) dan masuk dalam golongan atau kasta Paria.
5) Agama Buddha
Agama Buddha diajarkan oleh Sidharta, putra raja Sudhodana dari Kerajaan Kosala. Sidharta berarti orang yang mencapai tujuannya. la juga disebut Buddha Gautama, berarti orang yang menerima bodhi (wahyu), orang yang telah mendapatkan penerangan. la juga disebut Jina artiya orang yang telah mencapai kemenangan atau Sakyamuni yang berarti orang yang bijaksana keturunan Sakya Gautama.
Ketika Sidarta Gautama berumur 29 tahun, mencoba mengelilingi desa-desa di sekitar istana. Sejak itulah ia menjumpai kenyataan yang belum pernah ia lihat selama hidupnya. Misalnya orang tua, jenazah yang diangkat dengan keranda, orang sakit, dan rahib (pendeta). Untuk pertama kalinya ia melihat tanda-tanda penderitaan. Misalnya usia tua, penyakit, dan kematian. Hal inilah yang membuat Siddarta merasa gelisah. Penderitaan di atas selalu menghantui pikirannya. Kemudian ia memutuskan untuk mencari jawaban apa hakikat hidup ini.Untuk mencari jawaban apa hakikat hidup ini, Sidarta Gautama pergi dari istana dengan menanggalkan semua kemewahan yang terdapat di tubuhnya, dan berganti pakaian sebagai rahib. Sekitar enam bulan, ia belajar hidup sebagai rahib seperti bertapa, berpuasa, dan hidup prihatin. la mengembara dari satu tempat ke tempat lain. Suatu ketika, Sidarta Gautama tiba di desa Gaya, dekat Bihar, Kapilawastu. Dibawah pohon, ia bersila untuk bertapa, yang kemudian memeroleh penerangan, yang berarti "menjadi paham tentang makna kehidupan". Peristiwa itu menandai Sidarta Gautama menjadi Buddha. Tempat Buddha memeroleh penerangan dinamakan Bodh Gaya. Pohon tempat ia bertapa dinamakan pohon bodhi.
Ada empat tempat yang dianggap suci oleh umat Buddha, karena berhubungan dengan kehidupan Sidharta.
a) Taman Lumbini, di Kapilawastu yang merupakan tempat kelahiran Sidharta (563 SM).
b) Bodh Gaya, sebagai tempatSidharta menerima peneranganagung.
c) Benares (Taman Rusa), tempat Sang Buddha pertama kali mengajarkan ajarannya.
d) Kusinagara, tempat Sang Buddha wafat (482 SM).
Oleh Raja Ashoka, keempat tempat suci tersebut diberi tanda, yakni bunga saroja sebagai lambang kelahiran Buddha; pohon pippala atau bodhi sebagai lambang penerangan agung; jantera sebagai lambang memulai memberikan ajarannya, dan stupa sebagai lambang kematiannya. Peristiwa kelahiran, menerima penerangan agung dan kematiannya terjadi pada tanggal yang bersamaan, yaitu waktu bulan purnama pada bulan Mei. Ketiga peristiwa tersebut oleh umat Buddha dirayakan sebagai Waisak atau Tri Waisak.
Setelah mendapat "penerangan" atau "sinar terang" Sang Buddha Gautama memberikan "wejangan" (khotbah) yang pertama di Taman Rusa. Agama Buddha tidak mengenal pembagian kasta dangolongan masyarakat. Dalam agama Buddha diakui adanya karma, yaitu pembalasan atau ganjaran bagi manusia dalam hidupnya. Setiap orang yang beramal baik pada waktu hidup di dunia akan masuk nirwana.
Para pemeluk agama Buddha mempunyai ikrar yang disebut Tri Sarana atau Tri Dharma, artinya tiga tempat berlindung, yaitu:
(1) Saya berlindung kepada Buddha
(2) Saya berlindung kepada Dharma
(3) Saya berlindung kepada Sanggha
Buddha, Dharma, dan Sanggha disebut Tri Ratna atau tiga mutiara. Sidarta Gautama mencapai nirwana yang sempurna, yang disebut Parinirwana. Ajaran agama Buddha dibukukan dalam kitab suci yang disebut Tripitaka. Tripitaka berarti "tiga keranjang" karena ditulis pada daun lontar yang tersimpan dalam keranjang.
Setelah seratus tahun Sang Buddha Gautama wafat, muncul bermacam-macam panafsiran terhadap hakekat ajaran Sang Buddha Gautama. Ajaran Agama Buddha kemudian terpecah menjadi dua aliran yaitu Buddha Hinayana dan Buddha Mahayana.
a) Buddha Hinayana melambangkan ajaran Sang Buddha Gautama sebagai kereta kecil, yang bermakna sifat tertutup. Penganut aliran ini hanya mengejar pembebasan bagi diri sendiri. Menurut aliran irii yang berhak "menjadi Sanggha" adalah para biksu dan biksuni yang berada di wihara.
b) Buddha Mahayana melambangkan ajaran Sang Buddha sebagai kereta besar, yang bermakna sifat terbuka. Penganut aliran ini tidak hanya mengejar pembebasan bagi diri sendiri tapi juga bagi orang lain. Menurut aliran ini setiap orang berhak menjadi Sanggha Buddha, sejauh sanggup menjalankanajaran dan petunjuk Sang Buddha
B. HUBUNGAN KEBUDAYAAN DI ASIA TENGGARA DAN ASIA SELATAN DENGAN PERKEMBANGAN MASYARAKAT PURBA DI KEPULAUAN INDONESIA
Jenis-jenis kebudayaan yang pernah berkembang di Asia Tenggara antara lain kebudayaan Hoa-Binh, Bacson, dan Dongson. Semua jenis kebudayaan itu telah memberikan pengaruh terhadap perkembangan masyarakat purba di Kepulauan Indonesia. Selain dengan Asia Tenggara, hubungan kebudayaan juga terjalin dengan Asia Selatan khususnya India.
1. Kebadayaan Hoabinh
Diperkirakan sekitar tahun 5.000 - 3.000 SM, mulai terlihat menguatnya budaya HoaBinh. Budaya ini memiliki karakter Mesolithik dan ciri-ciri Neolithik (dilakukan pemolesan sebagian benda-benda tajam).
Kebudayaan Hoabinh berkembang di Tonkin, di tepi kanan Sungai Merah dan terutama di wilayah Hoa-Binh yang kemudian menjadi nama kebudayaan tersebut, serta di wilayah Annam (Tanh-hoa dan Quang-Binh). Budaya Hoa-Binh yang berkembang di Semenanjung Melayu diperkirakan dibawa oleh sekelompok orang Melanesoide, berkulit hitam kemungkinan datang dari Cina Selatan, namun sangat berbeda dengan orang Afrika.
Kedatangan mereka dibedakan menjadi dua gelombang. Gelombang pertama terdiri dari orang-orang yang berperawakan pendek, kulitnya sangat hitam, Mereka mengajarkan teknik pemolesan sebagian kepada orang-orang Australoide yang membaur dengan mereka.
Di Annam, ditemukan tengkorak-tengkorak kelompok yang Melanesoide berjajar dengan tengkorak kelompok orang Australoid, misalnya di Goa Lang-Kao, dan Hoa-Binh. Hal ini membuktikan adanya asimilasi tersebut.
Hasil kebudayaan yang merupakan pengaruh dari budaya Hoa-Binth adalah pebble (kapak Sumatra) yang baru diasah tajamnya saja. Manusia pendukung kebudayaan tersebut dari ras Papua Malanesoide. Baik kebudayaan maupun manusia pendukung kebudayaan ini kemudian berkembang di Kepulauan Nusantara. Gelombang kedua terdiri dari orang-orang berperawakan lebih tinggi, kulitnya lebih putih dan rambutnya berombak. Mereka inilah yang nanti dianggap sebagai pembawa budaya Bacson.
2. Kebudayaan Bacson
Kelompok orang Melasoide yang menyebar ke Indocina dari arah utara ke selatan pada gelombang kedua kemudian berasimilasi dengan orang-orang Australoide dan orang Melasoide kelompok pertama. Mereka dinilai sebagai pembuat tipe alat baru yaitu kapak pendek yang diperoleh dengan memotong sebuah kapak bersisi dua dan memoles bagian tajamnya. Mereka juga banyak menggunakan karang dan tulang, serta mengenal tembikar yang dibuat dengan teknik keranjang.
Situ-situs penting dari pembuatan benda-benda tersebut terletak di daerah Bacson, Tonkin Budaya Bacson kemudian menyebar ke seluruh semenanjung, terutama Semenanjung Melayu (goa Mandau, Kelantan, dan Bukit Kintamani, Pahang), bahkan lebih jauh ke Nusantara. Sekitar 3.000 SM, kelompok orang Austronesia datang dari selatan Cina. Mula-mula mereka berhubungan dengan berbagai kelompok Austroloide dan Melanesoide yang terlebih dahulu menetap di Indocina.
Namun, akhirnya mereka mendominasi. Hal ini dibuktikan dengan kenyataan bahrva kini di Indocina tinggal sedikit yang bertampang Melanesoide, yakni kelompok orang Semang di Semenanjung Melayu. Kelompok ini terutama diwakili oleh orang-orang Papua. Kelompok Austronesialah yang diduga mengisi fase terakhir budaya Bacson. Merekalah yang menimbulkan kemajuan-kemajuan budaya Bacson. Hasil karya mereka dapat ditemui di Siam, Laos; Semenanjung Melayu, dan Indonesia.
3. Kebudayaan DongSon
Kebudayaan merupakan hasil karya kelompok orang Austronesia yang menetap di pesisir Annam. Kebudayaan ini berkembang secara luar biasa antara abad ke-5 dan ke-2 SM. Orang-orang Austronesia yang menetap di pesisir Annam ini disebut orang Dong Son. Mereka adalah para petani yang bertanam padi, beternak kerbau dan babi. Mereka menetap di pematang-pematang pesisir, terlindung dari bahaya banjir, dalam rumah-rumah panggung besar, dengan atap melengkung lebar dan menjulur menaungi emper. Mereka juga merupakan pelaut-Ipelaut yang berpengalaman dan gagah berani melayari seluruh Laut Cina, bahkan lebih jauh lagi ke sebagian laut-laut selatan dengan perahu mereka yang panjang.
Benda-benda arkeologi dari Dong Son sangat beraneka ragam karena menampilkan berbagai pengaruh dan aliran. Hal itu tampak jelas pada artefak-artefak kehidupan seharihari ataupun peralatan ritus. Perunggu adalah bahan utama alat-alat Dong Son. Alat-alat tersebut, seperti kapak dengan selongsong, ujung tombak, pisau belati, mata bajak dan topangan berkaki tiga, gerabag jambangan rumah tangga, mata timbangan, dan kabala pemintal benang; perhiasan-perhiasan, gelang dari tulang dan kerang, manik-manik dari kaca, juga sangat menarik.
4. Kebudayaan India
Budaya India masuk ke Nusantara melalui jalur perdagangan. Pada zaman dahulu, India adalah salah satu pusat perdagangan selain Cina. Hubungan India dengan Indonesia (Nusantara) diperkirakan telah berlangsung sejak zaman prasejarah. Hubungan India dengan Indonesia lebih tua dibandingkan hubungan Cina dengan Indonesia.
Hubungan perdagangan antara Indonesia dengan India dimungkinkan karena Kepulauan Indonesiaterletak dalam jalur perdagangan kuno antara India dan Cina. Buktibukti adanya hubungan antara Indonesia dengan India adalah terdapatnya beberapa suku bangsa yang memiliki kesamaan ciri-ciri fisik dengan penduduk Indonesia di India Selaian, misalnya suku bangsa Parawar dan Shanar. Orang-orang Parawar sejak dulu dikenal sebagai penyelam mutiara di Teluk Manar. Mereka juga menggunakan perahu bercadik, perahu kha syang dipergunakan penduduk Kepulauan Indonesia.
C. PROSES MIGRASI RAS PROTO MELAYU DAN DEUTRO MELAYU
Berdsarkan hasil berbagi penyelidikan sejarah purba terutama yang dilakukan oleh sejarawan Belanda, Von Heine Geldern, diterangkan bahwa sejak tahun 2.000 sebelum Masehi yang bersamaan dengan zaman Neolitikum sampai dengan tahun 500 sebelum Masehi yang bersamaan dengan zaman perunggu mengalirlah gelombang perpindahan penduduk dari Asia ke pulau-pulau di sebelah Selatan daratan Asia.
Pulau-pulau di sebelah selatan Asia disebut Austronesia (austro artinya selatan, nesos artinya pulau). Bangsa yang mendiami daerah Austronesia disebut bangsa Austronesia. Bangsa Austronesia mendiami wilayah yang amat luas, meliputi pulau-pulau yang membentang dari Madagaskar (sebelah barat) sampai ke Pulau Paskah (sebelah timur) dan Taiwan (sebelah utara) sampai Selandia Baru (sebelah selatan).
Pendapat Von Heine Geldern ini diperkuat dengan penemuan peralatan manusia purba berupa beliung batu berbentuk persegi di Sumatra, Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi bagian barat. Beliung seperti itu di Asia banyak ditemukan di Malaysia, Myanmar, Vietnam, dan Kamboja terutama di wilayah Yunan.
Perpindahan penduduk gelombang ke dua terjadi pada tahun 400-300 sebelum Masehi bersamaan dengan zaman Perunggu. Perpindahan ini membawa kebudayaan perunggu, seperti kapak sepatu dan nekara atau gendering yang berasal dari daerah Dong Son. Oleh karena itu, kebudayaan perunggu di Indonesia juga disebut kebudayaan Dong Son.
Pendukung budaya Dong Son ini adalah orang-orang Austronesia yang tinggal di pulaupulau antara Benua Asia dan Benua Australia. Kedatangan orang-orang Austronesia yang berasal dari Yunan ke Indonesia itu terjadi sekitar tahun 2.000 SM. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa mereka inilah nenek moyang bangsa Indonesia. Pendapat demikian juga pernah (ada 113 bahasa daerah) di Indonesia. Simpulannya bahwa bahasa daerah tersebut dahulunya berasal dari satu rumpun bahasa yang disebut bahasa Austronesia.
Nenek moyang bangsa Indonesia meninggalkan daerah Yunan di sekitar hulu Sungai Salwen dan Sungai Mekhong yang tanahnya subur diperkirakan karena bencana alam dan serangan suku bangsa lain. Alat transportasi yang digunakan oleh nenek moyang bangsa Indonesia untuk mencapai Nusantara adalah perahu bercadik. Mereka berlayar secara berkelompok tanpa mengenal rasa takut dan selanjutnya menempati berbagai pulau. Salah satu tempat yang mereka pilih adalah Nusantara. Hal itu menunjukkan bahwa nenek moyang bangsa Indonesia adalah pelaut-pelaut ulung yang memiliki jiwa kelautan mendalam. Nenek moyang bangsa Indonesia mempunyai kebudayaan kelautan, yaitu sebagai penemu model asli perahu bercadik yang merupakan ciri khas kapal bangsa Indonesia.
Orang-orang Austronesia yang memasuki wilayah Nusantara dan kemudian menetap I disebut bangsa Melayu Indonesia. Mereka inilah yang menjadi nenek moyang langsung bangsa Indonesia sekarang. Bangsa Melayu itu dapat dibedakan menjadi dua suku bangsa.
1. Bangsa Melayu Tua (Proto Melayu)
Bangsa Melayu Tua adalah orang-orang
Austronesia dari Asia yang pertama kali
datang ke Nusantara pada sekitar tahun 1500
SM. Bangsa Melayu Tua memasuki wilayah Nusantara melalui dua jalur, yaitu jalur barat
melalui Malaysia - Sumatra dan jalur utara atau timur melalui Filipina-SulaWesi.
Bangsa Melayu Tua memiliki kebudayaan purba yang lebih tinggi daripada manusia Kebudayaan bangsa Melayu Tua disebut kebudayaan Batu Baru atau Neolitikum. Meskipun hampir segala peralatan merekaterbuat dari batu, pembuatannya sudah dihaluskan. Hasil budaya zaman ini yang terkenal adalah kapak persegi yang banyak ditemukan di wilayah Indonesia bagian barat (Sumatra, Jawa, Kalimantan, dan Bali). Menurut penelitian Van Heekeren di Kalumpang (SulawesiUtara) telah terjadi perpaduan antara kapak persegi dan kapak lonjong yang dibawa oleh orang-orang Austronesia yang datang dari arah utara Indonesia (melalui Filipina dan Sulawesi). Suku bangsa Indonesia yang termasuk anak keturunan bangsa Proto Melayu adalah Suku Dayak, Suku Toraja, Suku Batak, dan Papua.
2. Bangsa Melayu Muda (Deutero Melayu)
Pada kurun waktu tahun 400 - 300 SM adalah gelombang kedua nenek moyang bangsa Indonesia datang ke Nusantara. Bangsa Melayu Muda (Deutero Melayu) berhasil mendesak dan berasimilasi dengan pendahulunya bangsa Proto Melayu. Bangsa Deutero Melayu memasuki wilayah Nusantara melalui jalur barat. Mereka menempuh rute dari Yunan (Teluk Tonkin), Vietnam, Semenanjung Malaysia, dan akhirnya sampai di Nusantara.
Bangsa Deutero Melayu memiliki kebudayaan yang lebih maju dibandingkan bangsa PrOto Melayu karena mereka telah dapat membuat barang-barang dari perunggu dan besi. Hasil budayanya yang terkenal adalah kapak corong, kapak sepatu, dan nekara. Selain kebudayaan logam, bangsa Deutero Melayu juga mengembangtan kebudayaan Megalitikum, yditu kebudayaan yang terutama menghasilkan bangunan terbut dari batu besar. Hasil-hasil kebudayaan Megalitikum, misalnya menhir (tugu batu), dolmen (meja bbatu) sarkofagus (keranda mayat), kubur batu, dan punden berundak. Suku bangsa Indonesia yang termasuk keturunan bangsa Melayu Muda (Deutero Melayu) adalah Suku Jawa, Melayu dan Bugis.
D. BUDAYA LOGAM DI INDONESIA
Makin meningkatnya kehidupan sosial ekonomi manusia terjadi pula peningkatan bentuk kehidupan dari masa sebelumnya. Peningkatan ini terutama dalam hal pengolahan logam, khususnya perunggu dan besi. Masyarakat purba yang telah mampu mempunyai kemampuan tinggi. Dengan peningkatan tersebut dapat disimpulkan bahwa telah terdapat kelompok masyarakat dengan pembagian kerja yang baik. Pembagian ini tidak hanya meliputi pembuatan alat dari logam, tetapi juga bidang-bidang yang lain. Oleh karena itu, masyarakat perundagian telah menampakkan ciri-ciri masyarakat yang teratur.
Di Indonesia penggunaan logam untuk pembuatan peralatan hidup diketahui pada masa beberapa abad sebelum Masehi. Berdasarkan temuan-temuan arkeologis, manusia purba di Indonesia hanya mengenal alat-alat dari perunggu dan besi, sedangkan untuk perhiasan selain bahan peerunggu juga telah dikenal emas. Benda-benda perunggu yang ditemukan di Indonesia menunjukkan persamaan dengan temuan-temuan di Dong Son (Vietnam), baik bentuk maupun pola hiasnya. Hal itu menimbulkan dugaan tentang adanya hubungan budaya yang berkembang di Dong Son dengan di Indonesia. Benda-benda yang dihasilkan dari pengolahan logam pada zaman Perundagian yang terutama ialah nekara perunggu, kapak perunggu, bejana perunggu, arca-arca perunggu, dan perhiasan.
1. Nekara Perunggu
Nekara adalah semacam genderang dari perunggu yang berpinggang di bagian tengahnya dan sisi atasnya tertutup, jadi kira-kira sama dengan dandang yang ditelungkupkan. Nekara yang ditemukan di Indonesia ada yang mempunyai ukuran besar dan ukuran kecil. Nekara yang diemukan di Pejeng, Bali adalah nekara dalam ukuran besar. Nekara ini bergaris tengah 160 cm dan tinggi 186 cm. Benda ini sekarang disimpan di Pura Panataransasih, Gianyar, Bali. Nekara ini sangat dipuja oleh masyarakat. Tidak semua orang dan setiap waktu orang bisa melihatnya karena nekara ini dianggap barang suci, yang hanya dipergunakan pada waktu upapara-upacara raja yaitu dengan cara ditabuh untuk memanggil anwah atau roh nenek moyang.
Nekara perunggu banyak ditemukan di Sumatra, Jawa, Bali, Pulau Sangean dekat Sumbawa, Roti, Leti, Selayar, dan Kepulauan Kei. Di Alor banyak pula terdapat nekara, tetapi lebih kecil dan ramping daripada yang .ditemukan di lain tempat. Nekara yang demikian itu di Alor, biasa disebut moko, dan sangat dihargai penduduk sebagai barang pusaka atau mas kawin. Hiasan pada nekara itu sangat indah berupa garis-garis lurus (Ian bengkok, pilin-pilin dan gambar geometris lainnya, binatang-binatang (burung, gajah, merak, kuda, dan rusa), rumah, perahu, orang-orang berburu, tari-tarian, dan lain-lain. Dari berbagai lukisan kita mendapat gambaran tentang penghidupan dan kebudayaan yang ada pada dewasa itu.
Pada nekara dari Sangean ada gambar orang menunggang kuda beserta pengiringnya keduanya memakai pakaian Tartar. Gambar-gambar orang Tartar ini memberi petunjuk akan hubungan dengan daerah Tiongkok. Pengaruh-pengaruh dari zaman itu kini masih nyata pada seni hias suku bangsa Eayak dan Ngada (Flores). Eengan ditemukannya cetakan nekara terbuat dari batu di Desa Manuaba (Bali) maka dapat disimpulkan bahwa tidak semua nekara itu berasal dari luar Indonesia.
2. Kapak Perunggu
Kapak perunggu bentuk bagia ntajamnya seperti kapak batu, hanya bagian tangkainya berbentuk corong. Maka kapak ini disebut juga kapak corong atau kapak sepatu. Kapak corong ini terutama ditemukan di Sumatra Selatan, Jawa, Bali, Sulawesi Tengah dan Selatan, Pulau Selaya, dan di Irian dekat Danau Sentani. Bentuk kapak ini sangat banyak jenisnya ada yang kecil dan bersahaja, ada yang besar disertai hiasan, ada yang pendek lebar, ada yang bulat, dan ada pula yang panjang
Yang panjang satu sisi ini disebut candrasa bentuknya sangat indah dan penuh hiasan. Fungsinya sebagai tanda kebesaran dan alat upacara keagamaan. Kadang-kadang kapak tersebut dihiasi gambar-gambar mata yang oval atau juga dengan ragam hias garis-garis geometiis dan pilin berganda (double spiral).
3. Bejana Perunggu
Bejana perunggu di tepi Danau Kerinci dan di Madura bentuknya seperti periuk, tetapi larigsing dan gepeng. Keduanya mempunyai hiasan yang serupa dan sangat indah berupa gambar-gambar geometri dan pilin-pilin yang mirip huruf J, Pada bejana di Madura dihiasi dengan gambar, burung merak dan rusa dalam kotak-kotak segitiga.
Selain di. Madura dan Kerinci, bejana seperti ini juga ditemukan di Pnom Penh(Kamboja) maka tidak dapat disanksikan lagi bahwa kebudayaan logam di Indonesia memang termasuk satu kebudayaan logam di Indonesia memang ,-nasuk satu golongan dengan kebudayaan logam Asia yang berpusat di Dong Son. Itulah sebbbnya, zaman perunggu di Indonesia ini lebih dikenal dengan name kebudayaan Dong Son.
4. Arca-arca Perunggu
Arca perunggu yang ditemukan berupa arca yang menggambarkan orang yang sedang menari, berdiri, naik kuda, dan ada yang sedang memegang panah. Ada juga yang menggambarkan binatang antara kuda dan kerbau, tetapi semua arca bentuknya kecilkecil, yaitu berukuran 5-15 cm. Arca tersebut ditemukan di bangkinang (Riau), Lumajang, Bogor dan Palembang.
5. Perhiasan Perunggu
Selain kapak corong dan nekara banyak pula benda-benda lainnya dari zaman perunggu yang didapatkan, sebagian besar berupa barang-barang perhiasan, seperti gelang-binggel (anting kaki), anting-anting, kalung, dan cincin. Umumnya hiasan tersebut polos, kecuali beberapa buah yang diberi pola hias geometris. Ada juga bandul kalung yang berbentuk kepala orang.
Selain itu, terdapat cincin yang sangat kecil yungtidak Aupat dimasukijari ariak-anak sehingga kemungkinan berfungsi sebagai alat tukar (mata uang). Benda-benda itu ditemukan di Bogor, Bali, dan Malang. Banyak perhiasan yang ditemukan sebagai bekal kubur.
Di samping benda-benda perunggu, zaman Logam juga menghasilkan barang-barang dari besi meskipun jumlahnya tidak banyak. Jenis barang-barang besi yang dibuat pada zaman logam antara lain kapak, sabit, pisau: tembilang, pedang, cangkul, dan tongkat.

0 komentar: